Surat seorang lelaki kepada bulan
Aku tidak pernah tahu apakah aku berhak untuk merasa cemburu
Namun setiap kamu bercerita tentang laki-laki mu
Perasaan itu selalu saja menyerangku
Aku merasa kalah
Dia telah berhasil merebut hatimu dan aku tak pernah mampu
Dia telah mengisi satu sudut dari hatimu, dan aku tidak
Maka aku bertanya pada Tuhan, dan mengadu
Tentang perasaan cemburu yang tidak memiliki alasan itu
Tetapi barangkali memang seperti itulah
Semua mengalir karena kehendak Tuhan
Aku sendiri tidak pernah menyangka
Bertemu denganmu dan memiliki perasaan ini
Belakangan aku mulai menyukai gerimis
Karena dialah aku memiliki kesempatan untuk berteduh di emper toko
Dan ketika itulah, aku memiliki waktu untuk memikirkan keinginan-keinginanku
Karena air tempiasan yang jatuh pelan-pelan, selalu memberi kemungkinan
Dan pada genangan di pinggir jalan, aku bisa becermin
Entahlah, meski tidak begitu pandai aku ternyata juga bisa menangis
Memikirkan kelokan-kelokan hidup yang mesti dijalani
Sudah begitu lama, aku tidak merawat semangatku
Dan aku mulai lupa berkebun dan menanam bunga-bunga
Bahkan aku mulai kehilangan ingatan
Tentang keharuma melati, mawar dan anyelir
Aku sudah terlalu jauh berjalan sendirian
Menikmati sepi sebagai kawan sejati
Dan kenangan-kenangan menjadi kekasih
Maka jika boleh aku meminta
Mulailah untuk belajar memahami perasaanku
Karena aku sudah terlalu dalam masuk dan melayang jatuh
Tanpa mampu menggapai
Salama masih ada waktu untuk itu
Dan sebelum kau menemukan pelabuhan abadi
Maka jadilah angin musim semi yang hangat bagiku
Dan sebelum layer kapal kau tegakkan
Untuk membelah laut bersama nahkoda yang kau pilih
Sudilah menjadi nampan tempat aku menaruh segala cerita
Berilah aku kenangan yang indah
Yang bisa aku jadikan alasan, untuk tegak berdiri di bibir dermaga
Melambaikan tangan sambil tersenyum melepasmu
Meski dengan dada teriris belati
Suatu ketika nanti
(dari seorang kawan)

ngirim surat e nganggo email? pos? nek wis tekan aku dikabari ya?!